by Haidar Aqil Falah
Kita sering bangun tidur dengan perasaan yang sulit diberi nama, bukan sedih, bukan optimis, tetapi semacam kewaspadaan halus terhadap ritme hidup yang terasa makin menuntut. Dalam jeda singkat sebelum hari dimulai, muncul pertanyaan kecil yang tidak pernah benar-benar pergi: apakah ruang hidup semakin nyaman atau perlahan menyempit? Apakah kesempatan terasa lebih terbuka atau justru makin jauh dari jangkauan? Mengapa keseharian bergerak lebih cepat dari kemampuan kita mengikutinya, seolah ada sesuatu yang berubah dalam cara hidup ini dibentuk, tapi tidak selalu berubah ke arah yang membahagiakan? Fenomena-fenomena ini bukan sekadar keluhan individual, ia telah menjadi pola hidup massal yang terus berulang.
Yang membuatnya ironis adalah bagaimana pola tersebut berjalan berdampingan dengan tren makro yang menunjukkan kemajuan: PDB per kapita Indonesia meningkat dari sekitar USD 3.100 pada 2013 menjadi lebih dari USD 4.300 pada 2023, sementara pertumbuhan ekonomi dua dekade terakhir relatif stabil di kisaran 4โ6% dan kembali mendekati 5% pasca-pandemi.

Gambar 1. PDB per kapita Indonesia (USD, 2013โ2023)
Sumber: World Bank, via TradingEconomics
Secara makro, Indonesia tampak bergerak cepat. Tetapi ketika dua realitas ini disandingkan, prestasi makro dan pengalaman mikro, jurang itu semakin terlihat: pembangunan berlari kencang, namun kesejahteraan yang dirasakan warga tidak selalu ikut bergerak.
Di titik inilah teori Subjective Well-Being menjadi relevan. (Ed Diener, 1984) menulis bahwa kebahagiaan bukan sekadar kondisi hidup objektif, melainkan bagaimana โpeople evaluate their lives, the events happening to them, and the circumstances in which they liveโ. Artinya, negara bisa mengklaim kemajuan, tetapi jika warga menilai hidup mereka penuh tekanan, cemas, atau tidak aman, maka SWB mereka tetap rendah, meski indikator ekonomi menunjukkan tren positif.


Gambar 2&3. Korelasi HDI & SWB dan GDP & SWB
Sumber: (Sujarwoto, 2025)
Penelitian di Indonesia tentang kebahagiaan membuktikan hal ini: wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi tidak selalu memiliki penduduk yang lebih puas; bahkan ada provinsi ber-HDI tinggi yang justru mencatat skor emosi negatif yang besar. (Sujarwoto, 2025) menunjukkan bahwa โnull relationships between SWB and HDI and GDPโ ditemukan di seluruh 34 provinsi Indonesia, menandakan bahwa kesejahteraan subjektif bergerak dengan logika yang berbeda dari indikator pembangunan konvensional seperti PDB atau HDI.
Temuan ini memperjelas adanya ketidaksinkronan antara arah pembangunan dan kualitas hidup yang betul-betul dirasakan masyarakat. Pembangunan makro dapat tampak impresif, tetapi belum tentu menyentuh elemen paling mendasar dari kesejahteraan: ketenangan, kesehatan, relasi sosial, dan rasa aman.
Subjective Well-Being: Ketika Kebahagiaan Menjadi Ukuran Pembangunan yang Lebih Jujur
Subjective well-being (SWB) pada dasarnya menempatkan manusia di pusat pembangunan. Alih-alih bertanya โberapa besar ekonomi tumbuh?โ, SWB memulai dengan pertanyaan yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit dijawab: โapakah hidup yang dijalani orang membuat mereka merasa baik, aman, dan berarti?โ (Ed Diener, 1984) memperkenalkan SWB sebagai gabungan antara evaluasi kognitif atas kehidupan (life satisfaction) dan kondisi emosional sehari-hari (happiness).
Di konteks Indonesia, perspektif ini semakin penting. Penelitian (Sujarwoto, 2025) menunjukkan SWB adalah indikator pembangunan yang mampu menangkap dimensi yang luput dari HDI atau PDB. Menggunakan lebih dari 72.000 responden dari Survei Kebahagiaan Nasional, ia menegaskan bahwa SWB memiliki asosiasi kuat dengan faktor-faktor seperti kesehatan, kualitas lingkungan, keamanan pribadi, kondisi perumahan, relasi sosial, dan work-life balance faktor-faktor yang justru tidak selalu sejalan dengan angka makro ekonomi. Temuan ini memperkuat argumen bahwa pembangunan tidak dapat dinilai hanya dari output material, karena kualitas hidup bergantung pada pengalaman, emosi, dan evaluasi subyektif warga sehari-hari.
Studi menggunakan data IFLS juga menunjukkan bahwa subjective well-being orang Indonesia dipengaruhi oleh lapisan pengalaman yang sangat beragam. (Renanita & Rembulan, 2025) menemukan bahwa subjective financial well-being memediasi hubungan antara social comparison dan SWB, sehingga perbandingan sosial baru berdampak ketika ia membentuk persepsi seseorang tentang stabilitas finansialnya. Penelitian (Nugroho et al., 2022) menegaskan bahwa modal sosial meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup, terutama melalui rasa terhubung, dukungan, dan kepercayaan antarwarga. Sementara itu, (Rahman et al., 2022) menunjukkan bahwa bencana iklim tidak langsung menurunkan kebahagiaan, tetapi perlahan mengurangi kepuasan hidup, menandakan gagalnya rasa aman yang lebih dalam. Jika tiga temuan ini dibaca bersama, maka jelas bahwa kesejahteraan manusia tidak hanya dibentuk oleh apa yang mereka miliki, tetapi terutama oleh bagaimana mereka memaknai kondisi hidupnya, kepada siapa mereka terhubung, dan seberapa aman dunia di sekeliling mereka.
Keseluruhan temuan ini membentuk gambaran yang konsisten, bahwa SWB adalah indikator yang hidup, sensitif, dan sangat manusiawi. Ia merespons tekanan sehari-hari, kualitas lingkungan, relasi sosial, rasa aman, dan kemampuan seseorang mengendalikan hidupnya. Ia juga memperlihatkan bagaimana kesenjangan infrastruktur, perbedaan urban-rural, dan tekanan ekonomi memengaruhi perasaan orang terhadap hidupnya. Itulah mengapa banyak penelitian-penelitian modern menyebut SWB sebagai indikator pembangunan yang โlebih jujurโ: ketika hidup terasa berat, SWB jatuh, meskipun ekonomi makro menunjukkan kemajuan.
Easterlin Paradox: Ketika Pertumbuhan Tidak Mengikuti Kebahagiaan
Gagasan bahwa kenaikan pendapatan tidak selalu membuat masyarakat lebih bahagia pertama kali ditunjukkan oleh (Richard A. Easterlin, 1974). Dari data Amerika pascaperang, ia menemukan paradoks yang tajam: orang kaya memang lebih bahagia daripada orang miskin pada satu waktu, tetapi ketika pendapatan nasional meningkat selama puluhan tahun, kebahagiaan rata-rata tidak ikut naik.
Empat dekade kemudian, Easterlin menguji kembali temuan ini pada 37 negara dan hasilnya tetap konsisten: pertumbuhan GDP per kapita tidak berkaitan dengan perubahan jangka panjang pada life satisfaction (Easterlin et al., 2010). Seperti yang terlihat pada grafik berikut, garis tren antarnegara hampir datar. menunjukkan bahwa ekonomi dapat tumbuh 5-9% per tahun, tetapi kebahagiaan warganya tidak otomatis bergerak naik.

Gambar 1. Pertumbuhan GDP per kapita vs perubahan life satisfaction (37 negara)
Sumber: (Easterlin et al., 2010)
Paradoks ini menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan riset-riset SWB mutakhir. Studi global (Tsurumi & Managi, 2025) menunjukkan bahwa hubungan pendapatan dan SWB sangat bergantung pada indikator SWB yang digunakan. Untuk life satisfaction dan cantril ladder, pendapatan memang berhubungan positif, tetapi hanya sampai titik tertentu. Grafik berikut menunjukkan bagaimana kontribusi pendapatan terhadap berbagai indikator SWB cenderung flattening pada level pendapatan menengah, dan hampir datar pada pendapatan tinggi, terutama untuk affect balance dan kesehatan mental.

Gambar 2. Prediksi kontribusi pendapatan terhadap SWB (enam indikator global)
Sumber: (Tsurumi & Managi, 2025)
Jika dua bukti empiris ini dibaca bersama, kita melihat pola yang konsisten: pendapatan memang penting untuk keluar dari kemiskinan, mengurangi stres dasar, dan memperbaiki kondisi hidup objektif. Tetapi setelah titik tertentu, masalah kebahagiaan bergeser dari ekonomi menjadi psikologis, sosial, dan struktural. Karena itu, pertumbuhan GDP yang stabil tidak serta-merta mengangkat SWB nasional, persis seperti yang ditunjukkan Easterlin lima puluh tahun lalu. Pertumbuhan bisa mengubah wajah kota, memperluas jalan, dan menaikkan angka-angka statistik, tetapi tidak ada jaminan ia mengurangi kecemasan, memperkuat hubungan sosial, atau memberi rasa saman dalam kehidupan sehari-hari.
Arah yang Ditunjukkan Semua Temuan Ini
Pada akhirnya, seluruh temuan ini, dari SWB hingga paradoks Easterlin, mengarah pada satu pesan sederhana, pembangunan hanya bermakna sejauh ia mampu menyentuh kehidupan manusia apa adanya. Pertumbuhan ekonomi dapat bergerak naik, infrastruktur dapat diperluas, dan pendapatan dapat meningkat, tetapi kebahagiaan tetap bergantung pada hal-hal yang lebih halus: rasa aman, hubungan sosial, persepsi akan stabilitas hidup, dan kemampuan manusia memaknai hari-harinya. Selama elemen-elemen ini tertinggal, kesejahteraan subjektif akan tetap berjalan di jalur yang berbeda dari angka-angka pembangunan.
Daftar Pustaka
Easterlin, R. A., McVey, L. A., Switek, M., Sawangfa, O., & Zweig, J. S. (2010). The happiness – Income paradox revisited. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 107(52), 22463โ22468. https://doi.org/10.1073/pnas.1015962107
Ed Diener. (1984). Subjective Well Being. Psycological Bulletin, 95 (3), 542โ575. https://ssrn.com/abstract=2162125
Nugroho, T. W., Hanani, N., Toiba, H., & Sujarwo, S. (2022). Promoting Subjective WellโBeing among Rural and Urban Residents in Indonesia: Does Social Capital Matter? Sustainability (Switzerland), 14(4). https://doi.org/10.3390/su14042375
Rahman, M. S., Andriatmoko, N. D., Saeri, M., Subagio, H., Malik, A., Triastono, J., Oelviani, R., Kilmanun, J. C., Silva, H. da, Pesireron, M., Senewe, R. E., & Yusuf, Y. (2022). Climate Disasters and Subjective Well-Being among Urban and Rural Residents in Indonesia. Sustainability (Switzerland), 14(6). https://doi.org/10.3390/su14063383
Renanita, T., & Rembulan, C. L. (2025). The Effects of Social Comparison and Subjective Financial Well-Being on Subjective Well-Being. Europeโs Journal of Psychology, 21(3), 179โ193. https://doi.org/10.5964/ejop.14791
Richard A. Easterlin. (1974). Does Economic Growth Improve the Human Lot? Some Empirical Evidence. University of Pensylvania.
Sujarwoto, S. (2025). DEVELOPMENT AS HAPPINESS: A MULTIDIMENSIONAL ANALYSIS OF SUBJECTIVE WELL-BEING IN INDONESIA. Economics and Sociology, 14 (9), 274. https://doi.org/10.14254/2071-789X.2021/14-2/15
Tsurumi, T., & Managi, S. (2025). Income and Subjective Well-Being: The Importance of Index Choice for Sustainable Economic Development. Sustainability (Switzerland), 17(12). https://doi.org/10.3390/su17125266
